Rabu, 08 Februari 2012

KLASIFIKASI DAN HIRARKI ILMU PENGETAHUAN

KLASIFIKASI DAN HIERARKI ILMU
ra filosof muslim membedakan ilmu kepada ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Kategori ilmu yang berguna mereka memasukkan ilmu-ilmu duniawi, seperti kedokteran, fisika, kimia,geografi, logika, etika, bersama disiplin-disiplin yang khusus mengenai ilmu keagamaan. Ilmu sihir, alkemi dan numerologidimasukkan ke dalam cabang ilmu yang tidak berguna.

       Secara umum ada tiga basis yang sangat mendasar dalam menyusun secara hierarkis ilmu-ilmu metodologis, ontologis dan etis.


       Al-Farabi membuat klasifikasi ilmu secara filosofis ke dalam beberapa wilayah, seperti ilmu-ilmu matematis, ilmu alam, metafisika, politik dan yang terakhir yurisprudensi dan teologi dilektis.
       Sedangkan Al-Gazali secara filosofis membagi ilmu ke dalam ilmu syar’iyyah dan ilmu aqliyyah. Oleh Al-Gazali ilmu yang terakhir ini disebut juga sebagai ilmu ghair syar’iyyah.
       Secara umum ilmu-ilmu yang berkembang dalam sejarah Islam meliputi ilmu Al-Qur’an, ilmu Hadits, ilmu Tafsir, bahasa Arab, ilmu kalam atau teologi, fiqih siasah atau hukum tata Negara, peradilan, tasawuf, tarekat, akhlak, sejarah politik, dakwah Islam, sains Islam, pendidikan Islam, peradaban Islam, peradaban Islam, perbandingan agama, kebudayaan Islam, pembaharuan dan pemurnian dalam Islam, studi wilayah Islam dan studi bahasa-bahasa dan sastra-sastra Islam.
       Sejak abadke-19 dunia Islam telah merasakan perbenturan dengan barat. Sebagaimana yang disinggung oleh Fazlur Rahman.bahwa hegemoni barat dengan membaawa nilai-nilai sekularnya pun menembus pada sendi-sendi, struktur-struktur ilmu-ilmu Islam, seperti ditingkat teoritis berupa gejala rasionalis butayang tidak mengindahkan nuansa religious dan akhirnya merambat ke tingkat praksisi berupa westernisasi.
UPAYA MEMPEROLEH KEBENARAN



1.   Pendekatan Empiris
Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata, dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya. Kenyataan seperti ini menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman.
Bagi yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit.
2.    Pendekatan Rasional
Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio, upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir,sehingga dengan kemampuannya tersebut manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.
 3.    Pendekatan Intuitif
Pendekatan ini merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu. Misalkan Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahan dari masalah yg dihadapi.
4.      Pendekatan Religius
Kita sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal pikiran harus menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan Tuhan. Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti ini disebut sebagai pendekatan religious.
5.      Pendekatan Otoritas
Yang dimaksud dengan pendekatan otoritas ini adalah seseorang yang memiliki kelebihan tertentu disbanding orang lain. Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima sebagai suatu kebenaran.
 JENIS-JENIS KEBENARAN

1.     Kebenaran Individual
Kebenaran Individual ini merupakan kebenaran yang di ikuti manusia berdasarkan pendapat sendiri.
2.     Kebenaran Objektif
           Kebenaran Objektif merupakan kebenaran yang biasanya bersumber dari ajaran leluhur  yang  diwariskan secara turun temurun dan sudah mendarah daging dalam masyarakat.
3.     Kebenaran Hakiki
       Kebenaran yang sifatnya mutlak, pasti dan tidak akan pernah mengalami perubahan, tentunya kebenaran ini bukan dari manusia, tetapi kebanaran ini datangnya dari Sang Pencipta, sebab itu jangan sekali-kali kita meragukannya.
UKURAN KEBENARAN

Kebenaran adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyatan ini pasti, dan tidak dapat dipungkiri lagi. Kita manusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah yang bisa memuaskan rasa ingin tahu kita, dengan kata lain  tujuan pengetahuan ialah mengetahui kebenaran. Tujuan ilmu juga mencapai kebenaran, dengan kata lain, dalam ilmu kita manusia  ingin memperoleh pengetahuann yang benar, karena ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, maka pengetahuan yang diituju ilmu adalah pengetahuan ilmiah.


Kita manusia bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin mengetahu kebenaran. Kita juga selalu ingin memiliki pengetahuan yang benar. Kebenaran ialah persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar.Pada setiap jenis pengetahuan tidak sama kriteria kebenarannya karena sifat danwatak pengetahuan itu berbeda. Pengetahuan tentang alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik. Scara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran, namun masalahnya tidak hanya sampai di situ saja.Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya espistemologi.
Teori koresponden ini pada umumnya dianaut oleh para pengikut realisme. Adalah Plato, Asistoteles,Moore, russel, Ramsey. Dan tersk teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russell (1872-1970) seorang yang bernama k.roders seorang penganut realisme kritis Amerika, berpendapat, bahwa keadaan benar ini terletak dalam kesusuaian antara”esensi atau arti yang kitaberikan dengan’ esensi yang terdapat didalam objektif”.
Berawal dengan idealisme, mereka realisme atau dalam istilah Marxian lebih terkenal dengan materialisme dialektika itu mempertahankan bahwa kebenaran adalah objektif. Selama kenenaran mencerminkan dunia wujud secara pbjektif. Kandungan kebenaran sepenuhnya ditentukan oleh proses objektif yang di cerminkannya. Selanjudnya leni menulis dari renungan yang hudud menuju ke pemikiran yang obstrak.dalam dunua sains teori ini sangant penting sekali digunakan mencapai suatu kebenaran yang dapat diterima oleh semua orang penelitian sangat penting dalam teori korespondensi karena untuk mengecek kebenaran suatu teori perlu penelitian ulang.

0 komentar:

Poskan Komentar